SURAH AL-FATIHAH – JILID 5

imagesTafsir Hidayatul Ihsan oleh Abu Yahya Marwan bin Musa.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧

 

AYAT 1

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

Maksudnya adalah “Saya memulai membaca surat Al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah sambil memohon pertolongan kepada-Nya agar dapat membaca firman-Nya, memahami maknanya dan dapat mengambilnya sebagai petunjuk.”

Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan, menaiki kendaraan, membaca Al Qur’an di awal surat, masuk dan keluar masjid, mengunci pintu, masuk dan keluar rumah, menulis surat, hendak berwudhu’ dan sebagainya.

Allah ialah nama Zat Yang Mahasuci, yang satu-satunya berhak disembah dengan sebenarnya disertai rasa cinta, takut dan berharap kepada-Nya, Zat yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tetapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah memiliki rahmat (kasih-sayang) yang luas mengena kepada semua makhluk-Nya, sedangkan Ar Rahiim artinya Allah Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin. Kepada orang-orang mukmin itu diberikan-Nya rahmat yang mutlak, selain mereka hanya memperperoleh sebagian daripadanya. Ar Rahmaan dan Ar Rahiim merupakan nama Allah yang menetapkan adanya sifat rahmah (sayang) bagi Allah Ta’ala sesuai dengan kebesaran-Nya.

Bersambung . . . . .

Iklan

SURAH AL-FATIHAH – JILID 4

al_fatiha_inspired_by_utiforever-d4ilxhaImam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Hasyim (yakni Ibnul Barid), telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Jabir yang menceritakan, “Aku sampai kepada Rasulullah saw, yang pada saat itu air wudhu beliau telah dituangkan, maka aku mengucapkan, “Assalamu’alaika ya Rusulullah”. Tetapi beliau tidak menjawabku. Maka aku ucapkan lagi “Assalamu’alaika ya Rusulullah”. Beliau tidak menjawabku, dan kuucapkan lagi “Assalamu’alaika ya Rusulullah”, tetapi beliau tetap tidak menjawabku.

Kemudian Rasulullah saw berjalan, sedangkan aku berada di belakangnya hingga beliau masuk ke dalam kemahnya. Kemudian aku masuk ke dalam masjid, lalu duduk dalam keadaan bersedih hati dan murung. Kemudian Rasulullah saw datang menemuiku, sedangkan beliau telah bersuci, lalu bersabda, “wa’alaikas salam warahmatullahi wabarakatuh, wa’alaikas salam warahmatullahi wabarakatuh, wa’alaikas salam warahmatullahi wabarakatuh”. Kemudian beliau bersabda, maukah aku ajarkan kepadamu, hai Abdullah ibnu Jabir, suatu surat yang paling baik dalam Al-Qur’an ?” Aku menjawab, “Tentu saja aku mau wahai Rasulullah”. Rasulullah saw bersabda, “bacalah Alhamdulillahi rabbil alamin hingga selesai”.

Imam Ahmad juga menyampaikan bahwa dalam hadits yang diriwayatkan melalui Ubay ibnu Ka’b bahwa Rasulullah saw bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, Allah tidak pernah menurunkan di dalam kitab Taurat, tidak dalam kitab Injil serta tidak dalam kitab Zabur, tidak pula dalam Al-Qur’an suatu surat yang serupa dengan surat itu (Ummul Qur’an atau Al-Fatihah). Sesungguhnya surat itu adalah As-Sab’ul Matsani”.

Imam Bukhari didalam Fadailil Qur’an mengatakan, telah menceritrakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Wahb, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Muhammad ibnu Ma’bad, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa ketika kami berada dalam suatu perjalanan, tiba-tiba datanglah seorang budak perempuan muda, lalu ia berkata, “Sesungguhnya pemimpin kabilah terkena sengatan binatang beracun, sedangkan kaum lelaki kami sedang tidak ada di tempat, adakah di antara kalian yang dapat me-ruqyah ? Maka datanglah seorang laki-laki dari kalangan kami bersamanya, padahal kami sebelumnya tidak pernah memperhatikan bahwa dia dapat me-ruqyah.

Kemudian lelaki itu me-ruqyah-nya dan ternyata pemimpin kabilah sembuh, maka pemimpin kabilah memerintahkan agar memberinya upah berupa tiga puluh ekor kambing dan memberi kami minum laban (semacam yoghurt). Ketika lelaki itu kembali, kami bertanya kepadanya, “apakah kamu dapat me-ruqyah atau kamu pandai me-ruqyah ?”. Ia menjawab, “tidak, aku hanya me-ruqyah dengan membaca Ummul Kitab (Surah Al-Fatihah)”. Kami berkata, “janganlah kalian membicarakan sesuatu pun sebelum kita sampai dan bertanya kepada Rasulullah”. Ketika tiba di Madinah, kami ceritakan hal itu kepada Nabi saw, dan beliau menjawab, “siapakah yang memberitahukan kepadanya bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah ?” bagi-bagikanlah dan berikanlah kepadaku satu bagian darinya”.

Sumber: Terjemahan Tafsir Ibnu Katsir

bersambung . . . . .

SURAH AL-FATIHAH – JILID 3

surat-al-fatihah-circular-calligraphyMenurut Prof. Dr. Drs. H. Muhammad Amin Suma, SH, MH, MM*, para ahli berbeda pendapat dalam mengategorikan surat al-Fatihah ke dalam kelompok surat-surat Makkiyah atau surat-surat Madaniyah. Sebagian mereka, menyimpulkan bahwa surat al-Fatihah diturunkan sebelum nabi hijrah ke Madinah. Karenanya, surat al-Fatihah termasuk ke dalam deretan surat-surat Makkiyah. Sementara sebagian ulama yang lain, menyatakan bahwa surat al-Fatihah diturunkan di Madinah (sesudah nabi hijrah). Atas dasar ini maka surat al-Fatihah mereka kelompokkan ke dalam kumpulan surat-surat Madaniyah. Perihal status surat al-Fatihah, ada juga kelompok ulama yang menyatakan bahwa surat perdana Alqur’an ini diturunkan sebanyak dua kali; yakni sekali di Makkah sebelum nabi hijrah, dan sekali yang lain diturunkan di Madinah (sesudah nabi hijrah ke Madinah).

Kembali ke keberadaan basmalah di dalam surat al-Fatihah, hampir atau bahkan semua cetakan dan penerbitan Al-qur’an selalu mencantumkan basmalah dalam deretan surat al-Fatihah, lebih dari itu malahan rata-rata memberikan nomor ayat (1) setelah tulisan basmalah. Sedangkan pada surat-surat yang lain, mulai dari surat al-Baqarah (2) dan seterusnya sampai surat al-Nas (114), umumnya penerbitan Al-qur’an tidak ada yang menyertakan nomor ayat pasca basmalah, meskipun penyertaan basmalah itu sangat merata pada semua dan setiap surat. Kecuali surat al-Taubat (9) yang memang tidak dibenarkan untuk mencantumkan dan/atau membaca basmalah di awal surat ini.

Sebagai surat perdana Al-qur’an, surat Al-Fatihah tentu memiliki keistimewaan tersendiri. Dari sisi penamaan dan/atau julukan misalnya, surat al-Fatihah adalah satu-satunya surat yang memiliki banyak nama dan/atau julukan. Menurut ahli-ahli Ulumul Qur’an, terutama kalangan mufassirin, surat perdana Al-qur’an ini memiliki nama-nama/julukan sebagai berikut: (1) al-Fatihah/Pembuka (2) al-Shalah/Shalat (3) al-Hamdu-al-Hamdu lillah (4) Fatihah Al-kitab/ Pembuka al-Kitab (5) umm al-kitab/induk Al-kitab (6) umm al-Qur’an/Induk Al-qur’an (7) al-Matsani/yang diulang-ulang (8) al-qur’an al’Azhim/Qur’an yang agung (9) al-Syifa’/obat (10) al-Ruqyah/Pengobatan dengan pembacaan ayat-ayat al-qur’an terutama dengan surat al-Fatihah (11) al-Asas/Pondasi (12) al-Wafiyah/Yang Utuh – Menyeluruh (13) al-Kafiyah/Yang Mencukupi (14) al-Sab’ al-Matsani/Tujuh Ayat yang Diulang-ulang (15) dan lain-alin.

Dilihat dari sudut pandang isinya, surat al-Fatihah memuat garis-garis besar isi kandungan Al-qur’an secara keseluruhan, yaitu meliputi: puji-pujian kepada Allah (al-tsana’ ‘ala Allah), tauhidullah (pemahaesaan Allah), beribadah sesuai dengan perintah dan larangannya (al-ta’abbud bi-amrihi wa-nahyih), menjelaskan janji-baik dan ancaman buruk (bayan wa’dihi wa-waidih), berita dan kisah (al-ikhbar wa-al-qashash), dan demikian pula dengan hukum-hukum yang bersifat praksis (al-hukm al-‘amaliyyah).

Berkata al-Maraghi, surat al-Fatihah itu memuat cita ideal Al-qur’an (maqashid al-Qur’an) secara global yang kemudian akan diurai secara rinci di dalam surat-surat yang berikutnya. Komentar senada dikemukakan oleh A. Yusuf Ali. Menurutnya: “By universal consent it is rightly placed at the beginning of the Qur’an, as summing up, in marvelously terse and comprehensive wrds, man’s relation to God in complation and prayer. In our spiritual contemplation the first words should be those of praise. If the praise is from our inmost being, it brings us into union with God’s will. Than our eyes see all good, peace, and harmony. Evil, rebellion, and conflict are purged out. They do not exist for us, for our eyes are lifted up above them in praise. Then we see God’s attributes better (verses 2-4). This leads us to the attitude of worship and acknowledegment (verse 5). And finally come preyer for guidance, and a contemplation of what guidance means (verses 6-7).

Terkait dengan nilai guna dan keistimewaan surat al-Fatihah, teramat banyak pakar tafsir yang memberikan uraian. Ibnu Juzzay al-Kilabi (692 – 741 H) misalnya, menyebutkan 20 faidah surat al-Fatihah seraya ia menguraikannya satu persatu sedemikian rupa. Al-Qurthubi (w. 671 H), menyebutkan 36 permasalahan yang termuat di dalam surat al-Fatihah. Sejumlah mufassir lain menukilkan beberapa riwayat terkait dengan keistimewaan surat al-Fatihah. Salah satunya adalah hadis qusi yang menyatakan bahwa Allah membagi peruntukkan surat al-Fatihah ini ke dalam dua bahagian, yakni sebahagian untuk Nya dan sebagian untuk hamba Nya yang membaca surat al-fatihah. Setiap surat alfatiha dibacakan oleh hamba Nya, maka akan selalu terjadi suasana dialogis antara hamba sebagai makhluk dengan Allah sebagai al-Khaliq.

Allah ‘Azza wa-Jalla berkalam: “Aku bagi (surat) al-Shalah (al-Fatihah) ini ke dalam dua bagian: sebagian untuk hamba-Ku dan sebagiannya untu Aku. Ketika hamba-Ku membaca al-hamdu lillahi rabb al-‘alamin, Allah berkata: “Hamba-Ku memuji Aku. Ketika hamba-Ku membaca al-rahman al-rahim, Allah menjawab: Hamba-Ku memberi puji-pujian kepada-Ku. Tatkala hamba-Ku membaca: iyyaka na’budu wa-iyyaka nasta’in, Allah bersabda: Ini antara Aku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku (sesuai dengan) apa yang dia minta. Dan apabila membaca Ihdinash-shirathal-mustaqima shirathalladzina an’amta ‘alaihim ghairil magdhubi ‘alaihim wa-la-al-dhallin, Allah berkalam: Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku (sesuai dengan) apa yang dia minta (hadis riwayat Muslim dari Abi Hurairah ra).

Fakta sosial ummatan muslimatan menunjukkan bahwa surat al-Fatihah menjadi surat Al-qur’an yang paling banyak dibaca, dibahas dan ditafsirkan orang. Pembacaannya yang berulang-ulang itulah yang menjadikan surat ini dijuluki dengan al-sab’ul al-matsani (Tujuh Ayat Al-qur’an yang diulang-ulang). Demikian pula dengan posisi sentral dan strategisnya sebagai surat pertama yang memandu secara global dan mendasar semua isi-kandungan Al-qur’an yang hendak dipaparkan di dalam 113 surat AL-qur’an yang menretainya. Insya Allah tidaklah salah ketika al-Fatihah dijuluki juga dengan umm al-Qur’an (induk al-Qur’an) meskipun ada ulama yang memakruhkan penamaan ini di antaranya al-Hasan dan Ibnu Sirin.

Juga, alangkah ruginya manakala kita cuma membaca surat al-Fatihah secara berulang-ulang, tanpa pernah mau tahu tentang isi kandungan surat-surat Al-qur’an lainnya yang justru mengupas luas dan membahas tuntas semua pembacaan, pemaknaan, pemahaman, penafsiran dan pengamalan isi kandungan surat al-Fatihah itu.

*Guru Besar UIN Jakarta, Guru Besar Luar Biasa STAIS Garut, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

RUJUKAN UTAMA

Alqur’an Al-karim;

Al-Ahadits al-Qudsiyyah, juz 1-2, Beirut – Lubnan: Dar al-Fikr, 1408 H/1988 M.

Abd al-Mun’im Ahmad Tu’alib, Fath al-Rahman fi-Tafsir al-Qur’an, jil. 1, Mishr: al-Ghairiyyah, 1416 H – 1995 M.

Abi Abdillah al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, juz 1, Beirut – Lubnan: Dar al-Fikr, [t.t.].

Abu Ali al-Fadhl bin al-Hasan al-Thabrasi, Majma’ al-Bayan fi-Tafsir’al-Qur’an, jil. 1-2, [t.k.]: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1406 H/1986 M.Beirut

A. Yusuf Ali, The Holy Qur’an Translation and Commentary, Beirut –Lubnan: Dar al-Qur’an al-Karim, [t.t.].

Muhammad Mahmud Hijazi, al-Tafsir’al-Wadhih, juz 1 – 10, Beirut – Lubnan: Dar al-Jayl, 1413 H – 1993 M;

Muhammad bin Ahmad bin Juzzay al-Kilabi, Kitab al-Tashil li-‘Ulum al-Tanzil, jil. 1, Beirut – Lubnan: Dar al-Fikr, [t.t].

bersambung . . . . .