MEMILIH PEMIMPIN DALAM TUNTUNAN AL-QUR’AN

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 57).

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Allah SWT [pemimpin-pemimpin yang tidak beriman kepada Allah SWT dan/atau yang tidak mengikuti Agama yang diridhai Allah SWT]. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran [daripadanya]. (Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 3).

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk dan tidak mengikuti perintah Allah SWT), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (Al-Qur’an Surah An Nahl ayat 63).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 51).

Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. (Al-Qur’an Surah Al Ahzab ayat 48).

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 80).

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 79).

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh/menghasut agar berbuat munkar dan melarang/menghalang-halangi berbuat ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya [berlaku kikir, tidak tunaikan zakat infaq dan shadaqah]. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (Al-Qur’an Surah At Taubah ayat 67).

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu [Nabi Muhammad SAW], mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai [mereka bersumpah bahwa mereka beriman/mendukung Islam hanya untuk menjaga kepentingan pribadinya], lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Qur’an Surah Al-Munafiqun ayat 1 dan 2).

Iklan

IMAN KEPADA ALLAH SWT

Allah-7-300x297IMAN KEPADA ALLAH SWT

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.

(QS. Ali Imran (3) Ayat 2).

Rasulullah SAW bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”. (HR. Bukhari nomor 16).

Percaya terhadap adanya Tuhan.

Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al Baqarah (2) ayat 21: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Kemudian diterangkan dalam Qur’an Surah Ali Imran (3) ayat 6:Dialah (Allah SWT) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kita ada karena ada yang menciptakan. Selayaknya pakaian, rumah, makanan, kendaraan, dan segala sesuatu benda di alam semesta ini juga ada, karena ada yang menciptakan. Manusia yang tidak mengakui adanya Tuhan yang Maha Pencipta secara tidak langsung telah mengingkari keberadaan dirinya sendiri dan kafir kepada Allah SWT.

Kisah.

Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa ada seorang kafir yang sangat yakin bahwa tidak ada Tuhan di dunia ini. Semuanya yang ada di dunia ini tercipta dengan sendirinya, tanpa ada Yang Maha Pencipta.

Dengan penuh keangkuhan, dia kemudian mengundang para Ulama ahli Tauhid di zaman-nya untuk berdebat dan membuktikan kepada masyarakat tentang keyakinan siapa yang paling benar.

Menerima undangan tersebut, maka para Ulama ahli Tauhid kemudian bermusyawarah dan memilih salah seorang diantara mereka yang paling bijak untuk menghadapi tantangan dari orang kafir itu.

Setelah melalui perundingan sebelum acara, maka disepakatilah antara orang kafir dan para Ulama tersebut segala hal terkait dengan acara tersebut, mulai dari waktu dan tempat pelaksanaan sampai pada kesepakatan bahwa siapa yang kalah, yang tidak dapat meyakinkan keyakinannya, mesti tunduk dan menerima kebenaran.

Hari yang dinanti pun tiba. Masyarakat, para pendukung orang-orang kafir maupun para Ulama pun hadir di tempat yang disepakati. Namun acara belum dapat dimulai karena Ulama yang akan bertarung dengan orang kafir itu belum kunjung tiba.

Sambil menunggu kedatangan Ulama tersebut, orang kafir kemudian memulai orasinya dengan menghina para Ulama. Ia menyatakan bahwa para Ulama itu sebenarnya takut menghadapinya dan berusaha untuk mengulur-ulur waktu. Dia sangat yakin bahwa keyakinan para Ulama ahli Tauhid itu begitu dangkal dan tidak bisa dipertahankan secara akal sehat.

Beberapa saat kemudian, tampaklah dari kejauhan Ulama yang dimaksud berjalan, datang menuju ke tempat acara. Kedatangan Ulama tersebut disambut dengan salam dari para Ulama ahli Tauhid. Ia kemudian dipersilahkan untuk menyampaikan khutbah.

Sebelum Ulama tersebut memulai khutbahnya, orang kafir dipersilahkan untuk menyampaikan khutbahnya dan segala argumentasi untuk meyakinkan bahwa Tuhan tidak ada, dan bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.

Setelah itu, sampailah giliran sang ulama untuk bicara. Pada kesempatan tersebut Ulama ahli Tauhid yang terpilih itu segera menyampaikan salam dan permohonan maaf kepada semua hadirin, karena ia telah datang terlambat.

Ulama terpilih itu kemudian menjelaskan kejadian yang menyebabkan ia tidak dapat datang tepat waktu. Ia menjelaskan bahwa tempat ia tinggal adalah di daratan seberang yang di pisahkan oleh sungai. Oleh karena itu, ia tidak dapat dengan cepat berjalan ke tempat acara karena harus menunggu perahu atau rakit untuk bisa menyeberangi sungai.

Lama ia menuggu, namun tidak ada perahu atau pun rakit yang datang. Hingga akhirnya ia melihat ada sekumpulan kayu yang berserakan yang terapung dan hanyut mengikuti arus sungai. Ketika kumpulan kayu itu mendekat ke arahnya, tiba-tiba kayu-kayu tersebut bergerak dan bersatu padu hingga terbentuklah sebuah rakit dan berhenti tepat di depannya.

Ia kemudian naik ke rakit tersebut, rakit itu membawanya menyeberangi sungai dan akhirnya sampailah ia ke tempat acara.

Mendengar penjelasan tersebut, orang kafir kemudian berkata dengan keras “sungguh engkau adalah seorang pembohong besar !!! Bagaimana mungkin kumpulan kayu itu dapat bersatu padu dengan sendirinya kalau tidak ada orang atau sesuatu yang menggabungkannya ???” Tidak mungkin sebuah rakit dapat tercipta dengan sendirinya !!!”

Mendengar sanggahan dari orang kafir itu, sang ulama kemudian berkata “ jika engkau tidak yakin bahwa ada sebuah rakit yang dapat tercipta dengan sendirinya, maka bagaimana bisa engkau meyakini bahwa tidak ada Tuhan di dunia ini yang menciptakan engkau, seluruh manusia dan segala sesuatu di alam semesta ini ???”

Orang kafir itu pun terdiam, tidak bisa berkata-kata, dan segala argumentasinya bahwa Tuhan tidak ada, dan bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan dengan sendirinya terbantahkan.

Sungguh seorang pembohong besar adalah orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, dan segala sesuatu di dunia ini terjadi dengan sendirinya.

Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.

(Qur’an Surah Al Baqarah (2) ayat 116).

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

(Qur’an Surah Al Maidah (5) ayat 73).

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan.

(Qur’an Surah Al Ankabut (29) ayat 17).

Konsekuensi Iman Kepada Allah SWT.

Orang yang beriman kepada Allah tidak akan berdusta, dan tidak akan larut dalam kebingungan ketika dia menghadapi masalah dalam hidup.

Bagaimana mungkin seorang yang percaya kepada Tuhan, akan larut dalam kebingungan ketika menghadapi masalah dalam hidup, sementara dia tau bahwa ada Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana yang dapat menolongnya dan menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapinya.

Bagaimana mungkin seorang yang percaya terhadap adanya Tuhan akan berdusta, sementara dia tau bahwa dia tidak akan pernah luput dari pengawasan Tuhan.

Telah dijelaskan dalam Al Qur’an Surah Al An’am (6) ayat 3: Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.

Seorang mukmin tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan sesuatu apa pun dan akan menjalani hidupnya dengan perbuatan-perbuatan baik.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, “

(Qur’an Surah An Nisa (4) ayat 36).

Sikap Seorang Mukmin kepada Musyrikin.

Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al An’am (6) ayat 108: Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Islam adalah satu-satunya Agama yang diridhai Allah SWT, tetapi Umat Islam adalah Umat yang santun dan tidak akan menghina Agama lain. Mari kita wujudkan Rahmatan Lil Alamin.

* * *

IKHLAS, MEMURNIKAN AMALAN

ikhlas“Dan Aku (Allah SWT) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Allah SWT)”. (QS. Adz Dzariyat (51) Ayat 56).

Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena ingin mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya akan bernilai sebagaimana yang dia niatkan”. (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Hadits nomor 1 dalam Kitab Arbain, Imam Nawawi).

Penjelasan hadits tersebut menerangkan bahwa sebab dituturkannya hadits ini adalah terkait dengan peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah. Saat itu, Rasulullah SAW mendapatkan laporan bahwa ada seorang laki-laki Makkah yang ikut berhijrah hanya agar bisa menikahi seorang wanita, dan bukan karena untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Dari peristiwa tersebut, Rasulullah kemudian bersabda yang pada intinya menegaskan bahwa nilai suatu amalan itu ditentukan berdasarkan niatnya.

Ikhlas

Allah Ta’ala berfirman:
Padahal mereka (orang-orang yang telah diberi Kitab dari Allah) tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”. (Qur’an Surah al-Bayyinah ayat 5).

Orang-orang di zaman Jahiliyah dulu jika mengharapkan keridhaan Tuhan, mereka sembelih unta sebagai kurban, lalu darah unta itu disapukan pada dinding Baitullah atau Ka’bah. Kaum Muslimin hendak meniru perbuatan mereka itu, lalu turunlah ayat 37, Qur’an Surah Al-Hajj, dimana Allah Ta’ala berfirman:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”.

Sesungguhnya ikhlas itu berarti melakukan segala sesuatu dengan niat untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. Dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT, dan memurnikan ketaatan dari hal-hal yang dapat merusaknya.

Beberapa hal yang dapat merusak keikhlasan kita adalah rasa sombong, riya, ingin dipuji orang, dan mengharapkan materi duniawi. Orang yang melakukan kebaikan, hanya akan mendapatkan nama baik dimata manusia, jika dalam melakukan kebaikan itu tidak diniatkan lillahi ta’ala.

Sungguh perbedaan antara amalan seorang Muslim dengan mereka yang non Muslim adalah terletak pada niatnya. Amalan baik seorang Muslim selalu ditujukan atas nama Allah SWT, dan amalan baik dari seorang yang non-muslim bisa ditujukan atas banyak nama, bisa jadi atas nama kebaikan, atas nama kemanusiaan, ataupun atas nama kecintaan terhadap makhluk dan duniawi.

Amalan yang diniatkan karena Allah SWT akan bernilai ibadah, sementara amalan yang diniatkan karena selain Allah SWT hanya akan mendapatkan seperti apa yang diniatkan itu, tanpa adanya Ridha dari Allah SWT.

Kisah

Dalam salah satu kitab yang disusun oleh Imam Al-Ghazali, diceritakan tentang dua orang bersaudara yang tinggal serumah dengan kondisi keimanan yang berbeda. Sang kakak yang terkenal sebagai seorang ahli ibadah, tinggal di lantai atas, dan sang adik yang terkenal sebagai seorang ahli maksiat, tinggal di lantai dasar rumah mereka.

Suatu ketika, muncul dalam benak sang adik yang terkenal ahli maksiat itu untuk bertaubat. Dia merasa tidak bahagia dengan hidupnya yang penuh dengan dosa. Niatnya sudah mantab untuk kembali ke jalan Tuhan yang lurus, maka dia pun memutuskan untuk naik ke lantai atas, bertemu dengan kakaknya yang tekenal ahli ibadah agar dapat menuntunnya dalam bertaubat.

Pada saat yang sama, muncul dalam benak sang kakak yang ahli ibadah itu meninggalkan ibadahnya. Dia merasa penasaran dengan kehidupan maksiat dan ingin mencobanya. Imannya goyah pada saat itu, dan dengan penuh keyakinan dia berniat keluar dari rumahnya untuk bersenang-senang.

Sang adik pun pada akhirnya dengan niat bertaubat melangkahkan kakinya, naik tangga menuju ke tempat kakaknya di lantai atas. Secara bersamaan sang kakak dengan niat maksiat pun melangkahkan kakinya, turun tangga hendak keluar dari rumah.

Tanpa diduga, sang kakak tersandung dan kemudian jatuh terguling dari tangga dan menabrak adiknya yang sedang melangkah naik. Keduanya jatuh dan membentur tembok. Seketika keduanya meninggal dunia.

Pada hari setelah itu, para ulama yang taat yang hidup bersama mereka, diberi hikmah tentang kejadian tersebut. Maka diberitakanlah perihal kondisi kedua orang bersaudara itu di yaumul akhir nanti.

Sang kakak yang ahli ibadah, yang boleh jadi jaraknya dengan surga sudah sangat dekat, karena meninggalnya dengan niat dan langkah yang buruk, maka ia dikabarkan akan dibangkitkan pada yaumul akhir bergabung dengan golongan orang-orang yang merugi.

Sementara sang adik yang banyak hilaf, yang boleh jadi jaraknya dengan neraka sudah sangat dekat, karena meninggalnya dengan niat taubat dan telah melangkah menuju kebaikan, maka ia dikabarkan akan dibangkitkan pada yaumul akhir bergabung dengan golongan orang-orang yang beruntung.

Demikian kisah hikmah yang disampaikan dalam salah satu kitab yang disusun oleh Imam Al-Ghazali. Sungguh keikhlasan setiap insan dalam beribadah akan diuji. Amal shaleh dengan niat yang lurus untuk mendapatkan Ridha Allah SWT, perlu terus dijaga selama hidup.

Bagi mereka yang ahli ibadah, janganlah sombong dan berpuas diri dengan ibadahnya. Selalu ada ujian dan cobaan yang akan merintangi hidup. Sesungguhnya kesuksesan ibadah ditentukan pada akhir hayat. Oleh karenanya, teruslah meningkatkan kualitas ibadah selama hidup.

Bagi mereka yang ahli maksiat, janganlah pesimis, menyerah dan menutup diri dari hidayah. Selalu ada jalan dan kesempatan untuk bertaubat. Bersegeralah untuk meluruskan niat dan memperbaiki langkah. Ingatlah selalu, bahwa Allah SWT adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Mengambil Hikmah dari Surah An-Nas

Allah SWT memiliki 3 sifat utama dalam pokok ketuhanan yaitu Rubuiyah (Rabbin Nas), Mulkiyah (Malikin Nas) dan Uluhiyah (Ilahin Nas).

Rububiyah menunjukan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga setiap hukum yang telah ditetapkannya wajib ditaati oleh seluruh makhluk. Orang yang ikhlas tidak akan meninggalkan hukum Allah karena dunia dan tidak akan ragu untuk meninggalkan segala hukum yang bertentangan dengan hukum Allah SWT.

Mulkiyah menunjukan bahwa semua yang ada di alam semesta adalah milik-Nya, maka semua yang ada pada manusia adalah titipan, baik itu diri maupun harta kita. Pada hakekatnya semua titipan itu harus kita jaga dan kita manfaatkan sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Orang yang ikhlas tidak akan galau berkepanjangan karena kehilangan harta, jabatan dan segala sesuatu materi duniawi, karena yakin semua itu adalah milik Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.

Uluhiyah menunjukan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Tuhan yang berhak disembah oleh Manusia dan seluruh makhluk. Manusia yang memohon, berdo’a dan menyembah kepada selain Allah SWT adalah musyrik.

Orang yang ikhlas tidak akan bermohon-mohon kepada manusia ataupun makhluk yang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya kepada Allah SWT kita memohon, karena hanya Allah SWT yang dapat memenuhi semua kebutuhan kita.

Mengambil Hikmah dari Surah Al-Ikhlas

Berbeda dengan surah An-Nas dan Al-Falaq, didalam surah Al-Ikhlas tidak tertulis dan disebut kata Ikhlas dalam ayat-ayatnya sebagaimana Qul audzu birabbinnas dan Qul audzu birabbil falaq. Orang yang ikhlas tidak akan menyebut dan mengaku-ngaku ikhlas ataupun pamer dengan ibadahnya. Ikhlas adalah melakukan segala sesuatu karena Allah SWT, untuk Allah SWT, dan dengan petunjuk Allah SWT, bukan karena kesenangan pribadi, bukan karena kepuasan hati, bukan karena jabatan, harta, karena manusia atau karena lain tujuan duniawi.

InsyaAllah kita semua termasuk orang-orang yang Ikhlas dan diridhai Allah SWT.

* * *