BENCANA DI INDONESIA 2014

418Hingga Minggu (19/1/2014), banjir di Jakarta juga semakin parah. Hujan deras yang mengguyur hulu sungai dan wilayah Jabodetabek membuat saluran air dan 13 sungai di Jakarta meluap dan menggenangi 564 rukun tetangga di 30 kecamatan di DKI Jakarta. Ketinggian air sekitar 5 sentimeter hingga 3 meter. Kondisi ini membuat 30.784 warga harus mengungsi. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, kerugian akibat banjir yang melanda Ibu Kota sejak Minggu, 13 Januari 2014 lalu ditaksir telah menelan kerugian hingga ratusan miliar rupiah. “Jika dilihat dari sebaran lokasi banjirnya, banyak kawasan bisnis dan industri yang lumpuh sehingga kerugian yang ditimbulkan sangat besar,” ujarnya kepada Tempo, 19 Januari 2014.

Di Jawa, banjir hampir merata di seluruh wilayah, dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Banjir di Kabupaten Subang, Jawa Barat, kemarin menyebabkan jalur utama pantura putus, mulai dari Kecamatan Patokbeusi, Ciasem, Sukasari, Pamanukan, hingga Pusakajaya. Ketinggian air di ruas jalan tersebut hingga 60 sentimeter. Hingga berita ini diturunkan, jalur utama pantura Subang masih macet total dengan panjang antrean sekitar 1,5 kilometer di kedua arah.

Banjir di Kabupaten Subang kemarin melanda 12 kecamatan dengan ketinggian air antara 30 sentimeter hingga 2 meter. Wilayah yang paling parah banjir adalah di Pamanukan, Ciasem, Pusakajaya, Sukasari, Legon Kulon, dan Tambak Dahan. Posko banjir di Pamanukan juga terendam air. Banjir di Jabar terjadi di 8 dari 28 kabupaten dan kota.

Sebanyak 52.636 keluarga atau 178.222 jiwa yang tersebar di 20 kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terkena dampak bencana banjir yang melanda daerah setempat sejak sepekan terakhir.

Di Manado, banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah menyebabkan paling tidak 16 orang meninggal dan sekitar 10 orang masih tertimbun. Selain itu, sekitar 40.000 orang harus mengungsi. Pemerintah menetapkan banjir di Manado sebagai bencana nasional.

Kerugian material akibat bencana juga dialami warga korban erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Paling tidak 1.204 rumah hancur akibat erupsi Sinabung, kerugian diperkirakan Rp 20 miliar. Jumlah kerugian tersebut belum termasuk kerugian akibat kerusakan lahan pertanian akibat tersiram abu vulkanik. Jumlah pengungsi bencana erupsi Gunung Sinabung, Sumatera Utara, terus bertambah. Jumlah pengungsi yang tersebar di 40 titik penampungan mencapai 27.319 orang.

Dua perahu milik nelayan di pesisir Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi, Jumat (17/1). Kerugian akibat tenggelamnya dua perahu tersebutmencapai ratusan juta rupiah. Gelombang yang menerjang perairan Nusa Tenggara Timur tersebut berlangsung sejak awal pekan ini yang memaksat nelayan tidak melaut. Sementara itu BMKG Stasiun El Tari Kupang melaporkan cuaca buruk masih akan berlangsung selama pekan ini. Tinggi gelombang berkisar 4-6 meter dan kecepatan angin mencapai 45 kilometer per jam.

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2014/01/20/0713023/Indonesia.Darurat.Bencana.

http://www.tempo.co/read/news/2014/01/20/083546419/Kerugian-Banjir-di-Jakarta-Utara-Rp-100-M-per-Hari

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/14/01/25/mzy9lf-52636-keluarga-terkena-dampak-banjir-pati

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2014/01/17/6/208737/-Dua-Perahu-Nelayan-Tenggelam-di-Kupang

http://news.liputan6.com/read/803437/bnpb-pengungsi-gunung-sinabung-jadi-27319-orang

* * *

Iklan

PEMIMPIN “MAJELIS RASULULLAH”, HABIB MUNZIR

ziarahhb

Sumber Berita:

http://news.detik.com/read/2013/09/15/190047/2359272/10/perjalanan-hidup-pemimpin-majelis-rasulullah-habib-munzir

Jakarta – Habib Munzir Almusawa (40) meninggal dunia sore tadi (15 September 2013) di RSCM Kencana, Jakarta Pusat. Dia meninggalkan Majelis Rasulullah, kelompok dzikir yang sudah dibesarkannya selama hampir 15 tahun.

Dalam situs resmi majelis Rasulullah, tercatat perjalanan Habib Munzir sejak merintis majelis Rasulullah. Termasuk juga beberapa catatan biografi pria yang lahir di Cipanas, Jawa Barat, 23 Februari 1973 itu.

Habib Munzir adalah anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa dan Rahmah binti Hasyim Al-Musawa. Ia mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bahasa arab di LPBA Assalafy Jakarta Timur.

Ia memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur, yang dipimpin oleh Habib Naqib bin Muhammad bin Syehk Abu Bakar bin Salim. Setelah itu, Habib Munzir menimba ilmu di pesantren Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syech Abubakar bin Salim di Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994 untuk mendalami bidang syari’ah 4 tahun.

Kembali dari Yaman, Habib Munzir kembali ke Jakarta memulai berdakwah pada tahun 1998. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan, Habib Munzir memulai membuka majelis setiap malam Selasa.

Setelah jamaahnya semakin padat, Munzir lalu memusatkan pengajiannya di Masjid Raya Almunawar Pancoran, Jakarta Selatan. Hingga kini, anggotanya mencapai jutaan orang. Dia juga sering muncul di televisi. Presiden SBY dan sejumlah pejabat lain cukup dekat dengan Habib Munzir. Dalam sejumlah peringatan Isra Mi’raj atau Maulid Nabi Muhammad SAW, para pejabat kerap hadir di acara majelis Rasulullah.

* * *

TINGGINYA ANGKA PERCERAIAN DI INDONESIA

1broken-homeJakartamagazine.com – Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perceraian yang cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan data-data yang tercatat di pengadilan Agama dan Pengadilan negeri. Hal ini juga dapat kita buktikan bila mengunjungi pengadilan agama selalu ramai dengan orang-orang yang menunggu sidang cerai.

Secara historis, angka perceraian di Indonesia bersifat fluktuatif. Hal itu dapat ditilik dari hasil penelitian Mark Cammack, guru besar dari Southwestern School of Law-Los Angeles, USA.

Berdasarkan temuan Mark Cammack, pada tahun 1950-an angka perceraian di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tergolong yang paling tinggi di dunia. Pada dekade itu, dari 100 perkawinan, 50 di antaranya berakhir dengan perceraian.

Pada tahun 2009 perceraian mencapai 250 ribu.Tampak terjadi kenaikan dibanding tahun 2008 yang berada dalam kisaran 200 ribu kasus. Ironisnya, 70% perceraian diajukan oleh pihak isteri atau cerai gugat.

Data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, menunjukan bahwa dari 2 juta orang nikah setiap tahun se-Indonesia, maka ada 285.184 perkara yang berakhir dengan percerain per tahun se-Indonesia.

Tren perceraian di Indonesia Meningkat Setiap Tahun.

Adapun faktor perceraian disebabkan banyak hal, mulai dari selingkuh, ketidak harmonisan, sampai karena persoalan ekonomi. faktor ekonomi merupakan penyebab terbanyak dan yang unik adalah 70 % yang mengajukan cerai adalah istri, dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Data diatas memberikan gambaran bahwa, tingkat perceraian secara nasional cukup tinggi, begitu pula di daerah.

Sepanjang 5 tahun terakhir Kabupaten Malang menempati ranking pertama di Indonesia, dalam hal perceraian. Tahun 2006, jumlah perkara cerai sebanyak 5 ribu kasus. Tahun 2007 sebanyak 4.625 perkara, dan 2629 merupakan gugatan cerai dari istri, dan 1571 dari suami.

Kita melihat, bahwa pihak istri jauh lebih banyak yang menggugat cerai dibanding suami. Tingginya angka perceraian ini menurut PA malang, dipicu banyaknya warga yang mengadu nasib sebagai Tenaga kerja Wanita di luar negeri.

Untuk tingkat provinsi di tahun 2011, Jawa Timur masih menempati urutan pertama di bandingkan dengan provinsi lain. Kalau tingkat kabupaten, Indramayu menempati urutan pertama dan Banyuwangi yang di urutan kedua.

Dari data yang dikumpulkan PKS, pada tahun 2009 angka perceraian di seluruh daerah di Jawa Timur sebanyak 92.729 kasus. Dari jumlah tersebut, kabupaten atau kota yang masuk 5 besar angka perceraian yang tinggi yakni di Kabupaten Banyuwangi menempati urutan pertama sebanyak 6.784 kasus, disusul Kabupaten Malang sebanyak 6.716 kasus, Kabupaten Jember 6.054 kasus dan Surabaya menempati urutan keempat dengan jumlah pasangan suami istri (pasutri) yang cerai sebanyak 5.253. Sedangkan Kabupaten Blitar sebanyak 4.416 kasus.

Faktor perceraian yang paling dominan adalah hubungan pasutri yang tidak harmonis sekitar 33 persen. Kalau masalah ekonomi, selingkuh, ada WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain) itu angkanya kecil.

Dari 250 warga Surabaya yang bercerai setiap harinya, rangking tertinggi ternyata didominasi kaum guru. Data ini terungkap saat Walikota Surabaya Bambang DH memberi pembekalan terhadap CPNS guru.

Menurut Bambang DH, data yang didapat dari Pengadilan Agama, guru menempati urusan pertama dalam kasus perceraian. Namun dia tidak menyebutkan berapa jumlah guru setiap bulannya yang melakukan cerai.

Di Kabupaten Bantul, Berdasarkan data Pengadilan Agama Bantul kasus perceraian tahun 2007 mencapai 699 kasus, padahal tahun 2006 baru 577 kasus. Tahun 2008 sampai dengan bulan Mei sudah ada 336 kasus.

Tren kasus perceraian di Bantul terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebulan rata-rata ada 60 kasus yang kami tangani. Sebagian besar karena faktor perselisihan. Perselisihan dipicu karena pihak laki-laki menelantarkan atau tidak memberikan nafkah kepada istrinya. Sebagian besar yang bercerai berusia antara 30-40 tahun,” katanya.

Di Sidoarjo dalam delapan bulan terakhir, sebanyak 1.195 kasus cerai yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Dari kasus perceraian yang didaftarkan ke Pengadilan Agama Sidoarjo itu, sebagian besar disebabkan suami yang meninggalkan kewajibannya terhadap istri.

Pada 2006 lalu sebanyak 1.873 kasus cerai yang didaftarkan ke PA Sidoarjo. Jumlah itu meningkat 201 kasus atau menjadi 2.074 kasus cerai pada 2007.

penyebab lain perceraian di Sidoarjo adalah karena suami berbuat selingkuh. Namun, jumlah kasus tersebut tidak sebesar kasus suami meninggalkan kewajibannya terhadap istri.

Di Pontianak, faktor rendahnya ekonomi menyebabkan tingginya angka perceraian di Pengadilan Agama Pontianak, Kalimantan Barat.

Terhitung sejak Januari hingga Juni 2008, sudah ada 452 perkara yang masuk ke pengadilan.

Di Lamongan sampai Mei 2008 terjadi 969 kasus perceraian yang tercatat di Pengadilan Agama Lamongan.

Sebagian besar kasus perceraian akibat perselisihan. Faktor penyebab perselisihan dipicu kawin paksa, cemburu, faktor akonomi, kawin di bawah umur, tidak ada keharmonisan, dan gangguan pihak ketiga.

Banyak pihak istri yang mengajukan gugatan cerai dari suaminya akibat perselisihan dan ketidak harmonisan keluarga. Faktor terbesar yang memicu perceraian adalah tanggung jawab yang kurang dari pihak suami.

Di Tegal, selama bulan Oktober 2008, Pengadilan Agama Slawi telah menangani 322 perkara perceraian yang terjadi di Kabupaten Tegal. Jumlah ini lebih tinggi dibanding pada bulan November sebanyak 156 perkara perceraian.

Dari 322 perkara tersebut, 80 persen di antaranya disebabkan faktor ekonomi. Karena faktor ekonomi ini terjadi pertengkaran yang berujung perceraian.

Jadi kesimpulan dari data diatas adalah:

  1. Tren perceraian di Indonesia meningkat dari tahun ketahun.
  2. Dari 2 juta pernikahan setiap tahun, ada 200 ribuan yang bercerai.
  3. Masalah ekonomi (suami tidak bisa menafkahi) adalah no 1 penyebab perceraian, kemudian ketidak harmonisan pribadi, perselingkuhan.
  4. 70 % yang menggugat cerai adalah Isteri.

Data-data diatas membuat kita prihatin dan bertanya, mengapa begitu banyak pasangan suami-isteri yang mengakhiri hubungan mereka dengan perceraian? Semoga dapat menjadi perenungan bagi suami isteri, dan bagi orang-orang muda yang belum menikah dan berencana menikah.

sumber:

http://jakartamagazine.com/tahun-2012-perceraian-di-indonesia-meningkat/

depan.org