SHALAT TARAWIH

Prière_de_Tarawih_dans_la_Grande_Mosquée_de_Kairouan._Ramadan_2012

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala (Ridha Allah SWT), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

(HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Qiyam Ramadhan yang dimaksud adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam An Nawawi dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari تَرْوِيْحَةٌ yang diartikan sebagai “waktu sesaat untuk istirahat”. Shalat tarawih termasuk “qiyamul lail” yaitu shalat Sunnah di malam bulan Ramadhan [Lihat Al Jaami’ Li Ahkamish Sholah, 3/63 dan Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9630].

Shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para shahabat secara berjama’ah yang hanya tiga kali dilakukan, dan dilakukan sesudah shalat isya’ sebelum tidur malam.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha dijelaskan bahwa: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam (di bulan Ramadhan) keluar dan shalat (selain dari Shalat Fardhu dan Sunnah yang biasa dikerjakan) di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpullah banyak orang. Pada hari berikutnya ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan lagi, hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, dan Rasulullah Shallalalhu ‘alaihi wa sallam keluar dan shalat. Pada malam keempat masjid tidak mampu menampung jama’ah. Pada malam itu Beliau hanya keluar untuk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam (menunggu Rasul SAW untuk Shalat berjama’ah), namun (Rasul SAW tidak hadir karena) aku (Rasul SAW) khawatir (Shalat tersebut akan) diwajibkan atas kalian, kemudian kalian tidak mampu mengamalkannya”. [Hadits Riwayat Bukhari 924 dan Muslim 761].

JUMLAH RAKA’AT SHALAT TARAWIH

Pendapat pertama, yang membatasi hanya sebelas raka’at. Ini pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738).

Pendapat kedua, shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat para ulama diantaranya Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar r.a, dan ‘Ali r.a.

Al Kasaani mengatakan, “’Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”

Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”

Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”

‘Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”

Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636)

Pendapat ketiga, shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)

Pendapat keempat, shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267).

* * *

SHALAT JENAZAH DAN SHALAT GHAIB

50f5779fd4398_50f5779fd4ebcShalat jenazah adalah shalat yang dilakukan untuk jenazah muslim/muslimah setelah dimandikan dan dikafani, yang dimaksudkan untuk mendoakan jenazah agar mendapatkan ampunan dan kehidupan yang baik di alam kubur dan akhirat. Shalat Ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan ketika jasad mayit sudah dimakamkan, atau shalat yang dilakukan dari jarak yang jauh dari keberadaan mayit.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Bahwasanya Rasulullah SAW mengumumkan kematian An Najasyi (seorang Raja di negeri Habasyah (Ethiopia)) pada hari kematiannya. Rasul keluar bersama para sahabatnya ke lapangan, lalu mengatur shaf, kemudian (melaksanakan shalat dengan) bertakbir sebanyak empat kali.” (HR Bukhari).

Dari Ibnu Abbas ra, ia menyatakan bahwa Rasulallah SAW lewat dekat sebuah kuburan yang baru semalam dikuburkan. Rasulallah saw bertanya: ”Kapan dikuburkan?”. Mereka menjawab: ”Tadi Malam”. Beliau bertanya lagi: ”Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?”. Mereka menjawab: ”Kami kuburkan ia tengah malam yang sangat gelap karena itu kami tidak mau membangunkan engkau”. Lalu Nabi berdiri, kami berbaris dibelakang beliau untuk shalat. Ibnu Abbas berkata:”Dan aku termasuk orang yang berbaris. Maka beliau shalat” (HR Bukhari dan Muslim).

NIAT:

Niatkan dalam hati dan dimantapkan dengan diucapkan secara sirr (pelan) bahwa kita berniat menunaikan shalat jenazah/ghaib untuk almarhum/almarhumah dengan 4 takbir, fardu kifayah (hukumnya wajib secara umum untuk kaum muslim), hanya untuk memohon ridhanya Allah SWT / dilaksanakan hanya karna Allah semata, kemudian “Takbir”. Atau bisa juga dengan membaca secara sirr niat berikut ini:

Shalat Jenazah: “USHALLI ALA HADZAL MAYYITI, AR-BA ’A TAKBIRATIN FARDAL KIFAYATI (MA’MUMAN / IMAMAN) LILLAAHI TA ’ALA, ALLAAHU AKBAR”.

Shalat Ghaib: “USHALLI ALAL MAYYITIL GHAIBI AR-BA ’A TAKBIRATIN FARDAL KIFAYATI (MA’MUMAN / IMAMAN) LILLAAHI TA ’ALA, ALLAAHU AKBAR”.

BACAAN SETELAH TAKBIR PERTAMA:

Membaca Al – Qur’an Surah “Al – Fatihah”.

BACAAN SETELAH TAKBIR KEDUA:

Membaca Shalawat atas Nabi Muhammad saw, minimal membaca:

“ALLAHUMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD”

atau bisa membaca:

“ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMAD WA ’ALA ALI MUHAMMAD. KAMA SHALLAITA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM. WA BARIK ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMAD. KAMA BARAKTA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM FIL ‘ALAMINA INNAKA HAMIDUN MAJID”.

Artinya:

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan atas keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, dan limpahkanlah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya di seluruh alam ini, Engkaulah Tuhan yang Maha Terpuji dan Maha Mulia.”

BACAAN SETELAH TAKBIR KETIGA:

“ALLAHHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA ’AFIHI WA’FU ANHU”

Artinya:

“Yaa Allah ampunilah dia, berilah rahmat, kesejahteraan dan ma’afkanlah dia”.

Apabila jenazah yang dishalati itu perempuan, maka bacaan “Lahu” diganti dengan “Laha”. Jika mayatnya banyak maka bacaan “Lahu” diganti dengan “Lahum”.

BACAAN SETELAH TAKBIR KEEMPAT:

“ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRAHU WA LAA TAF-TINNAA BA’DAHU WAGHFIR LANAA WA LAHU”

Artinya:

“Yaa Allah, janganlah Engkau tolak pahalanya / janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”

SALAM SETELAH BACAAN TAKBIR KEEMPAT:

ASSALLAMU ‘ALAIKUM WARAHMATULLAHI WA BARAKATUH”

Artinya:

“Salam keselamatan untuk kamu sekalian dan rahmat Allah serta barakah semoga diberikan oleh Allah SWT kepada kamu sekalian.”

KEUTAMAAN SHALAT JENAZAH:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Yazid bin Kaisan telah menceritakan kepadaku Abu Hazim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menshalatkan jenazah, maka baginya pahala satu qirath, dan siapa yang mengantarnya hingga jenazah itu di letakkan di liang kubur, maka baginya pahala dua qirath.” Saya bertanya, “Wahai Abu Hurairah, seperti apakah (besarnya) dua qirath itu ?” ia menjawab, “Yaitu seperti gunung Uhud.” (HR. Muslim).

* * *

MANFAAT SHALAT

50f5779fd4398_50f5779fd4ebcMANFAAT SHALAT

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(QS. Al Ankabut (29) Ayat 45).

Menjaga Kebersihan.

Salah satu ni’mat besar yang Allah SWT berikan kepada kita adalah ni’mat sehat. Dan salah satu yang utama untuk menjaga kesehatan adalah menjaga kebersihan. Tuntunan Islam telah memberikan kita jalan untuk menjaga kesehatan dengan selalu mensucikan diri, salah satunya adalah dengan adanya kewajiban untuk berwudhu sebelum Shalat.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”.

(QS. Al Maidah ayat 6).

InsyaAllah orang-orang yang senantiasa menjaga shalatnya, akan selalu terjaga kebersihan dan kesehatannya.

Memurnikan Ikhlas dan Mengikis Sifat Munafik.

Manusian diciptakan untuk ibadah kepada Allah SWT. Dan untuk menjaga hati, lisan, dan perbuatan kita agar selalu lurus ikhlas dalam ibadah kepada Allah SWT, kita diberikan kewajiban Shalat Fardhu lima waktu dalam sehari.

Allah SWT berfirman: Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,” (QS. Al An’am ayat 162).

Namun demikian, diantara manusia, ada yang tidak memahami tujuan dirinya diciptakan. Mereka hendak membangkang kepada Allah SWT, dan berpura-pura taat. Maka kewajiban Shalat adalah salah satu perangkat tuntunan Islam untuk mendeteksi dan membedakan antara manusia yang benar-benar taat kepada Allah SWT dengan mereka yang munafik. Maka Al-Qur’an menjelaskan:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”.

(QS. An Nisa ayat 142).

Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya membuktikan ketaatannya kepada Allah SWT dengan menjaga Shalatnya, sebagaimana Allah SWT berfirman:

Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri) mu di setiap salat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya)”. (QS. Al A’raf ayat 29).

Dengan adanya kewajiban Shalat, Allah SWT tidak hanya menjaga umatnya agar tetap bersih jasmaninya, tetapi juga bersih jiwa dan hatinya. Karena sesungguhnya bersih secara fisik tidak memberikan manfaat jika jiwa dan hati kita tidak bersih.

Membiasakan Menjaga Penampilan.

Kewajiban Shalat, disempurnakan dengan tuntunan untuk dilaksanakan secara berjama’ah di Masjid. Dan untuk itu Allah SWT berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al A’raf ayat 31).

Tuntunan Islam tidak hanya sekedar menuntun kita untuk menjaga kebersihan, tetapi juga menjaga penampilan kita agar selalu terlihat rapi dan indah dipandang mata, tanpa berlebih-lebihan.

Menjalin Silaturahim.

Tuntunan Shalat berjamaah juga secara langsung telah menuntun kita, umat Islam, untuk saling mengenal, menjalin dan menjaga silaturahim antar sesama muslim. Shalat berjamaah melatih umat Islam untuk saling peduli satu sama lain, sehingga jika ada yag sakit dan ada yang butuh bantuan, maka dapat diketahui dan dibicarakan bersama. Momen Shalat berjama’ah membuka kesempatan kepada sesama muslim untuk bisa bertemu secara rutin untuk berbagi informasi dan berbagi kebaikan.

Sesungguhnya Allah SWT berfirman:

…..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…..” (QS. Al Maidah ayat 2).

Mendapatkan Pertolongan Allah SWT.

Selain membuka peluang untuk bisa saling tolong menolong antar sesama Muslim, Shalat juga menjadi salah satu cara bagi kita Umat Islam untuk mendapatkan pertolongan yang paling kuat, yaitu pertolongan dari Tuhan Yang Maha Besar. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah ayat 153).

Mendapatkan Ampunan dari Allah SWT.

Dengan melaksanakan Shalat, seorang Muslim tidak hanya akan mendapatkan petolongan dari Allah SWT di dunia, tetapi juga mendapatkan pertolongan Allah SWT di akhirath nanti. Jika dosa-dosa selama hidup akan membawa kesulitan di akhirath nanti, maka satu-satunya pertolongan yang bermanfaat adalah ampunan dari Allah SWT terhadap dosa-dosa kita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Jika imam mengucapkan, ‘Ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhallin’, maka ucapkanlah ‘amin’. Karena sesungguhnya siapa yang mengucapkannya bersamaan dengan ucapan (amin) malaikat, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq’alaih, al-lu’lu’ wal Marjan 231).

Selain itu, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda yang artinya, “Tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat di saat tiada naungan selain naunganNya… salah satunya: laki-laki yang hatinya senantiasa tertambat pada masjid-masjid.”. (al-lu’lu’ wal Marjan 610).

Mendapatkan Riziki & Pahala dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS. Thaha ayat 132).

Ayat tersebut mempertegas agar kita jangan pernah tinggalkan shalat karena khawatir usaha atau kerja kita akan terganggu dan mengurangi riziki kita.

Bukan hanya riziki di dunia yang akan kita peroleh, tetapi pahala yang dapat mangantarkan kita selamat di akhirath juga akan kita peroleh, demikian Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”.

(QS. Al Baqarah ayat 110).

Bahkan untuk Shalat berjama’ah, Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian.”.

(HR. Bukhari 645, Muslim 650).

Sungguh kebaikan yang banyak akan diperoleh oleh umat Islam karena Shalatnya kepada Allah SWT. Untuk itu, kembali dalam Al-Qur’an dipertegas kepada kita bahwa: “…..orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia”. (QS. Al Anfal ayat 3 dan 4).

Mendapatkan Surga dari Allah SWT.

Puncak dari segala kebaikan adalah akhir yang baik. Dan sebaik-baik akhir itu adalah kembali kepada Allah SWT dengan mendapatkan keridhaan-Nya.

Allah SWT berfirman: Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

(QS. Ar Rad ayat 22-24).

InsyaAllah kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan manfaat Shalat dan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT di dunia dan di akhirath.

* * *