MARI SEHATKAN METABOLISME HARTA KITA

hadist-zakatSesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah (2) ayat 277).

Zakat adalah salah satu obat hati yang menyehatkan harta. Jika sehatnya metabolisme pernapasan kita adalah karena kontiniunitas dalam menghirup oksigen, udara yang bersih, dan menghembuskan karbondioksida yang menjadi manfaat untuk tumbuhan, maka sehatnya metabolisme harta kita adalah karena istiqamah dalam mencari rezeki yang halal dan membagikan sebahagian dari rezeki itu untuk memberi manfaat bagi mereka yang berhak menerimanya.

Wahai saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah, mari akimu shalat wa atu zakat.

Dalil Zakat Penghasilan

Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu (QS. Al-Baqarah (2) ayat 267).

Tuntunan Zakat Penghasilan

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA menjelaskan: yang dimaksud dengan “hasil usaha yang baik-baik”, para ulama saat ini telah menggolongkannya sebagai jenis usaha manusia yang menghasilkan pendapatan, baik secara langsung tanpa keterikatan dengan orang atau pihak lain seperti para dokter, konsultan, seniman, dan lain-lain, maupun yang disertai keterikatan dengan pemerintah atau swasta seperti gaji, upah, dan honorarium.

Persentase dari Zakat penghasilan atau Zakat Profesi ditetapkan sama dengan zakat perdagangan, yakni 2,5% (dua setengah persen) dari hasil yang diterima setelah dikeluarkan segala biaya kebutuhan hidup yang wajar, dan sisa itu telah mencapai batas minimal dalam masa setahun, yakni senilai 85 gram emas murni. Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA menyampaikan bahwa penyamaan tersebut lebih bijaksana, karena hasil yang diterima biasanya berupa uang sehingga lebih mirip dengan perdagangan dan/atau nilai emas dan perak.

Waktu untuk menunaikan zakat selain bisa ditunaikan pertahun bisa juga ditunaikan setiap kali kita menerima penghasilan. Hal tersebut sesuai dengan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 3 Tahun 2003 tentang Zakat Penghasilan.

Siapkan Kalkulator Anda dan Mari Kita Mulai Berhitung

Jika tahun ini saya memperoleh gaji pokok/honor bulanan sebesar Rp. 5 juta, kemudian memperoleh insentif/bonus bulanan dari perusahaan sebesar Rp. 1 juta, lalu kemudian saya juga mendapatkan uang saku atas perjalanan tugas perbulan sebesar Rp. 1 juta, maka penghasilan perbulan saya adalah sebesar Rp. 7 juta. Jumlah itu dikurangi kebutuhan pokok hidup saya perbulan yaitu Rp. 3 juta, maka hasil yang lebihnya adalah  Rp. 4 juta.

Jika saya tunaikan zakat perbulan atau pada saat menerima, maka  Rp. 4 juta tersebut dikalikan 2,5%, hasilnya adalah Rp, 100 ribu.

Jika saya tunaikan zakat pertahun, maka Rp. 4 juta dikalikan 12 bulan, hasilnya Rp. 48 juta. Jika harga 1 gram emas adalah Rp. 500 ribu, nisabnya adalah 85 gram maka nilainya adalah Rp. 42,5 juta. Karena penghasilan satu tahun saya sudah mencapai dan/atau melebihi nisab, maka penghasilan saya wajib dizakati dengan dikalikan 2,5%. Hasilnya adalah Rp. 1,2 juta, yaitu jumlah yang perlu saya pindahkan dari kantong saya ke tangan mereka yang berhak.

Untuk Siapa Zakat itu ?

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. At-Taubah (9) ayat 60). Maka jelaslah bahwa zakat itu tidak ditunaikan untuk sesuatu selain dari yang telah diatur dalam tuntunan Islam.

Lindungi Kesehatan Ibadah Kita dari Serangan Penyakit Hati.

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut – nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. Al-Baqarah (2) ayat 264).

Sebagai umat Islam, kita juga dituntun untuk berhati-hati dari penularan sifat orang-orang munafik sebagaimana penjelasan Al-Qur’an: Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran) (QS. At-Taubah (9) ayat 75-76).

Kisah dan Pesan Untuk Kita Renungkan

Dalam terjemahan Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali oleh Prof. H. Tengku Ismail Yakub, MA disampaikan telah berkata Ibnu Mas’ud: “bahwa seorang laki-laki telah beribadah kepada Allah tujuh puluh tahun lamanya, kemudian ia tertimpa suatu perbuatan keji, maka binasalah amalannya. Lalu kemudian ia bertemu orang miskin, maka ia bersedekah kepadanya dengan sepotong roti. Maka diampunkan oleh Allah dosanya, dan dikembalikan kepadanya amalannya yang 70 tahun itu”.

Dalam kitab yang sama juga diceritakan telah berkata Umar bin Abdul Aziz: “Shalat itu menyampaikan kamu setengah jalan, puasa itu menyampaikan kamu ke pintu kerajaan, dan sadaqah itu membawa kamu masuk kedalamnya”.  InsyaAllah zakat kita dapat mengantarkan kita masuk kedalam Syurga yang telah disiapkan Allah SWT untuk orang-orang yang Shaleh.

* * *

Iklan